Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

# ZIKIR HARIAN #

Zikir harian ini yang diamalkan oleh Imam al-Ghazali Rahimahullahu Ta'ala. Mari kita amalkannya secara konsisten. Sesungguhnya amalan zikir menenangkan jiwa, memudahkan segala kerja & usaha serta menjadikan diri sentiasa tidak lupa kepadaNya yang maha Kuasa ALLOH SWT.

# Sakit Dalam Pandangan Islam #

Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan umat manusia secara beramai-ramai memburu kemewahan hidup, disisi lain masih banyak manusia yang terkungkung dengan penderitaan hidup. Akibat ketidak mampuan mengatasi kesulitan hidup banyak manusia yang mengalami kegoncangan jiwa karena tertekan oleh suatu kondisi. Kondisi yang menekan ini membuat jiwanya goncang lalu menimbulkan penderitaan bathin atau muncul bermacam-macam penyakit pada fisik.
Dalam perjalanan hidupnya didunia, manusia menjalani tiga keadaan penting: sehat, sakit atau mati. Kehidupan itu sendiri selalu diwarnai oleh hal-hal yang saling bertentangan, yang saling berganti mengisi hidup ini tanpa pernah kosong sedikit pun. Sehat dan sakit merupakan warna dan rona abadi yang selalu melekat dalam diri manusia selama dia masih hidup. Tetapi kebanyakan manusia memperlakukan sehat dan sakit secara tidak adil. Kebanyakan mereka menganggap sehat itu saja yang mempunyai makna. Sebaliknya sakit hanya dianggap sebagai beban dan penderitaan, yang tidak ada maknanya sama sekali. Orang yang beranggapan demikian jelas melakukan kesalahan besar, sebab Allah SWT selalu menciptakan sesuatu atau memberikan suatu ujian kepada hambanya pasti ada hikmah / pelajaran dibalik itu semua. (Q.S. Shaad : 27)
Walaupun demikian tidak seorang pun menginginkan dirinya sakit, namun kalau dia datang manusia tidak kuasa untuk menolaknya. Dalam keadaan sakit seseorang selain mengeluhkan penderitaan fisiknya juga biasanya disertai gangguan/guncangan jiwa dengan gejala ringan seperti stes sampai tingkat yang lebih berat. Hal ini wajar karena secara fisik seseorang yang sedang sakit akan dihadapkan kepada tiga alternatif kemungkinan yang akan dialaminya, yaitu : sembuh sempurna, sembuh disertai cacat sehingga terdapat kemunduran menetap pada fungsi-fungsi organ tubuhnya, atau meninggal dunia. Alternatif meninggal umumnya cukup menakutkan bagi mereka yang sedang sakit, karena mereka seperti juga kebanyakan diantara kita belum siap menghadapi panggilan malakul maut. Kecemasan atau ketakutan pada penderita ini, dapat menyebabkan timbulnya stess psikis yang justru akan melemahkan respons imonologi (daya tahan tubuh) dan mempersulit proses penyembuhan diri bagi mereka yang sakit. Menghadapi kondisi seperti ini bimbingan ruhani sangat diperlukan agar jiwa manusia tidak terguncang dan menjadi lebih kuat, yang pada akhirnya akan membantu proses kesembuhan
Gangguan psikis lainnya yang sering dialami oleh orang sakit adalah rasa putus asa, terutama bagi penderita yang kronis dan susah sembuh. Karena tipisnya aqidah (keimanan) kemudian muncul keinginan pada diri orang sakit untuk mengakhiri hidup dengan jalan yang tidak diridhai Allah SWT. Semua ini diakibatkan oleh hilangnya keyakinan kepada rahmat Allah SWT, sehingga kadang kala ada pasien yang sengaja meninggalkan ibadah sehari-hari, seperti doa, dzikir, atau sholat. Akibatnya semakin gersanglah nurani orang sakit tersebut dari sibghah ilahi rabbi.
Sakit sebagai salah satu ciptaan Allah SWT yang ditimpakan kepada manusia juga pasti ada maksudnya. Salah satu hikmah Allah SWT kepada hamba-Nya adalah sebagai ujian dan cobaan untuk membuktikan siapa-siapa saja yang benar-benar beriman. Firman Allah SWT :




Artinya : 214- Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Q.S. Al Baqarah : 214)
Demikianlah Allah SWT akan menguji hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan. Dia menguji manusia berupa kesehatan, agar mereka bersyukur dan mengetahui keutamaan Allah SWT serta kebaikan-Nya kepada mereka. Kemudian Allah SWT juga akan menguji manusia dengan keburukan seperti sakit dan miskin, agar mereka bersabar dan memohon perlindungan serta berdo'a kepada-Nya.
Amat banyak orang yang tidak memahami kenapa ia harus sakit, sehingga secara tidak sadar ia menganggap bahwa penyakit yang dideritanya tersebut sebagai malapetaka atau kutukan Allah yang dijatuhkan kepadanya. Tidak sedikitpun orang yang tatkala ditimpa penyakit menjadi putus asa, kehilangan pegangan, bahkan berburuk sangka kepada Allah SWT. Lalu timbul rasa tidak puas kepada Allah SWT, merasa bahwa dengan sakitnya itu Allah bersikap tidak adil, sehingga ia tidak lagi menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya sebagai hamba Allah. Padahal di waktu sehat, ia selalu mengucapkan dalam salatnya :



Artinya : "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam" (Q.S. Al An'am : 162)
Dalam pandangan Islam, penyakit merupakan cobaan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menguji keimanannya. Ketika seseorang sakit disana terkandung pahala, ampunan dan akan mengingatkan orang sakit kepada Allah SWT. Aisyah pernah meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda : 'Tidak ada musibah yang menimpa diri seorang muslim, kecuali Allah mengampuni dosa-dosanya, sampai-sampai sakitnya karena tertusuk duri sekalipun" (H.R. Buchari)
Sabda Rasulullah SAW :
وإن الله تعالى أذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضاومن فله السخط
(رواه ابن ماجه و الترمذى)
Artinya : Dan sesungguhnya bila Allah SWT mencintai suatu kaum, dicobanya dengan berbagai cobaan. Siapa yang ridha menerimanya, maka dia akan memperoleh keridhoan Allah. Dan barang siapa yang murka (tidak ridha) dia akan memperoleh kemurkaan Allah SWT. (H.R. Ibnu Majah dan At Turmudzi)
Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda :
عن ابي هريرة رضي الله عنه : عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما يصيب المسلم من نصب ولا هم ولا حزن ولا أذى ولاغم حتى شوكة يشاكها إلا :فر الله بها خطاياه (رواه البخارى و مسلم)
Artinya : Dari Abu Hurairah r.a. Nabi Muhammad SAW. Bersabda : Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kesusahan, kesedihan, penyakit, gangguan menumpuk pada dirinya kecuali Allah SWT hapuskan akan dosa-dosanya (H.R. Bukhari dan Muslim).
Allah SWT menciptakan cobaan antara lain untuk mengingatkan manusia terhadap rahmat-rahmat yang telah diberikan-Nya. Allah SWT memberikan penyakit agar setiap insan dapat menyadari bahwa selama ini dia telah diberi rahmat sehat yang begitu banyak. Namun kesehatan yang dimilikinya itu sering kali di abaikan, bahkan mungkin disia-siakan. Padahal ia mempunyai harga yang sangat bernilai tiada tolak ukur dan bandingannya.
Disamping itu, sakit juga digunakan oleh Allah SWT untuk memperingatkan manusia atas segala dosa-dosa dan perbuatan jahatnya selama hidup di dunia. Kalau dahulu seorang insan yang banyak berbuat kesalahan tidak berfikir tentang dosa dan pahala, maka disaat sakit biasanya manusia teringat akan dosa-dosanya sehingga ia berusaha untuk bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

# KETIKA SI CANTIK CARI JODOH #

Asma binti Umamah adalah seorang perempuan Arab yang sangat jelita. Kecantikannya tersohor ke seluruh negeri. Selain cantik, Asma seorang perempuan terpelajar yang sangat cerdas. Asma sosok perempuan idaman setiap lelaki. Namun, hingga usianya terus beranjak dewasa, tak ada satu pun lelaki yang dia terima lamarannya.

                Suatu ketika, Khalifah Adillah bin Marwan mengutus seseorang untuk meminang Asma lewat orangtuanya. Khalifah itu hendak menikahkan anak semata wayangnya yang sudah lama mengincar Asma. Mendapat pinangan dari seorang Khalifah, ternyata tidak membuat Asma gembira, tapi justru dia kembali menolak pinangan itu. Sampai beberapa kali pinangan diberikan, Asma tetap menolaknya. Awalnya, orangtua Asma bingung apa yang diinginkan oleh anak perempuannya itu.

Asma hanya berkata dengan penuh keyakinan, “Allah akan memberikan jodoh yang baik dan terbaik untukku.”
Asma selalu memanjatkan doa dan bertahajud kepada Allah agar didatangkan jodoh yang baik dan terbaik baginya. Pada suatu hari, Asma kedatangan sahabat lamanya, Abu Hurairah. Asma mengenal Abu Hurairah sebagai orang yang sangat saleh dan berbudi. Begitu pun orangtua Asma mengenal Abu Hurairah sebagai sahabat Asma sejak kecil. Sebenarnya Abu Hurairah tak sengaja berkunjung ke rumah Asma. Saat itu dia sedang membeli barang dagangan untuk dijual kembali di kotanya.

Namun, pada pertemuan itu, Abu Hurairah malah bercerita tentang keadaannya sekarang. “Istriku meninggal karena sakit dan aku memiliki seorang anak perempuan yang salihah berusia 3 tahun.”
Mendengar cerita itu, Asma berkata, “Jika kau menginzinkan, aku akan membantumu mengasuh putrimu”.
“ Maksudmu ? “, Abu Hurairah terkejut dengan ucapan Sahabatnya.
“ Sudah lama aku berdoa kepada Allah untuk dipertemukan dengan jodohku yang terbaik, entah mengapa ketika aku bertemu denganmu dan mendengar ceritamu, aku jadi yakin ini jawaban atas doaku “.

Tentu saja Abu Hurairah yang juga mengenal baik Asma, menyambut tawaran itu dengan bahagia. Demikian juga orangtua Asma, Mereka berbahagia. Namun Pernikahan Asma menjadi pergunjingan di kalangan masyarakat, banyak yang mencibir karena menganggap Asma yang cerdas bertindak gegabah dalam menentukan jodohnya.
Asma menolak anak Khalifah, tetapi malah menikah dengan seorang duda beranak satu. Namun, Asma tidak peduli dengan gunjingan itu, begitu pun orangtuanya. Sebagai seorang perempuan, dia pun mendapatkan hak untuk memilih jodohnya. Orangtua Asma justru merasa bahagia. Anak perempuannya menikah dengan seorang lelaki yang saleh dan taat beribadah serta berbudi luhur, sedangkan anak Khalifah belum tentu mampu memimpin keluarga yang diridhai Allah.

Dalam Islam, memang ada anjuran untuk menikahi seseorang karena 4 hal, yaitu harta benda, nasab, kecantikan/ketampanan, dan agamanya. Asma yang jelita dan cerdas memilih Agama sebagai faktor utama memilih jodoh.

“Ummu Salamah, istri Nabi saw. Bertanya, ‘Ya Rasulullah, seorang wanita dari kami ada yang kawin dua kali , tigakali, dan empat kali (maksudnya menikah lagi sampai empat kali  karena suamimya meninggal ) . Lalu, dia wafat dan masuk surga bersama suami-suaminya juga. Siapakah kelak yang akan menjadi suaminya di surga ? Nabi saw. Menjawab, ‘Dia disuruh memilih dan yang dia pilih adalah yang paling baik akhlaknya dengan berkata, ‘Ya Rabbku, orang ini ketika dalam negeri dunia paling baik akhlaknya terhadapku. Kawinkanlah aku dengan dia. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat.” –HR ATH-THABRANI

Sahabat, tidak sedikit diantara kita yang menentukan SPESIFIKASI JODOH untuk memenuhi KEPUASAN NAFSU dan EGO kita, maka bisa dipastikan Rumah Tangga atau Keluarga yang kita bangun akan menuai BANYAK MASALAH yang berkepanjangan.  Karena sebenarnya MENIKAH adalah BAI’AT kita yang kedua kepada Allah SWT untuk Menegakkan ATURAN ALLAH SWT dalam Komunitas Terkecil yaitu Rumah Tangga, ketika salah satu TIDAK MEMAHAMI hakekat pernikahan ini, maka dapat dipastikan kehidupan Rumah Tangga kita tidak akan pernah EFEKTIF dan EFISIEN, akan selalu terjadi konflik kepentingan masing-masing. Kewajiban menjalankan PERAN kita sebagai HAMBA dan KHALIFAHNYA tidak akan pernah OPTIMAL.

Sebenarnya Allah SWT telah memberikan cara memilih Jodoh yang sangat sederhana, mudah dan menyelamatkan :
” janganlah kalian menikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman.Sesungguhnya budak perempuan yang mukmin lebih baik dari perempuan yang musrik,walaupun dia menarik hati kalian.Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan perempuan –perempuan mukmin)sebelum mereka beriman. sesungguhnya budak (laki-laki) yang mukmin lebih baik dari orang yang musyrik,walaupun dia menarik hati kalian.mereka mengajak ke neraka,sedangkan Allah mengajak k esurga dan ampunan dengan izin-Nya.Dan Allah menerangkan ayat-ayat –Nya (perintah-perintah-Nya kepada manusia supaya mereka mengambi l pelajaran” (QS.al-baqarah {2}:221)

Lalu bagaimana kita tau, siapa calon Jodoh kita yang Pilihan Allah SWT itu ? ya sederhana saja, karena Jodoh kita ada di TANGANNYA, maka ketika kita sudah sipa lahir batin untuk menikah yang langsung saja  kita minta jodoh kita itu segera dikirim, kalo lama tidak dikirim bagaimana ? ya sabar dan terus perbanyak Sholat untuk memintanya, kalo ada yang datang melamar, taunya itu jodoh pilihan Allah atau bukan bagaimana ? ya kita tanya dulu lagi sama Allah, apakah betul  yang datang itu kirimanNYA atau bukan, kalo betul  itu kirimanNYA akan ada isyarat KEMANTAPAN HATI kadang berupa mimpi yang baik kadang juga tanpa mimpi. Kalo itu bukan kirimanNYA juga akan ada isyarat KERAGUA-RAGUAN atau MIMPI PERINGATAN.

Nah kalo kita sudah dapat peringatan bahwa itu BUKAN kirimanNYA, lalu kita memaksakan diri untuk menerimanya karena sudah memenuhi spesifikasi untuk kepuasan nafsu dan ego kita, maka sangat dipastikan kehidupan Rumah Tangga kita akan berjalan sangat TIDAK EFEKTIF dan bisa jadi akan berujung kepada Perceraian, namun jika salah satu masih mampu MENGALAH dan tetap TABAH terhadap segala UJIAN karena menyadari KESALAHPILIHANNYA itu, Allah SWT akan tetap memberikan JALAN yang terbaik untuk kelangsungan hidup Rumah Tangga kita. Ya… Allah Maha Pengasih dan Penyayang dan selalu terbuka PINTU MAAFNYA untuk kita yang MENGAKUI KESALAHAN, jangan pernah berputus asa kalo sudah terlanjur SALAH PILIH.

# Alasan Seorang Pakar Ilmuwan Yahudi Masuk Islam #


Robert Gelhem, pemimpin yahudi di Albert Einstain College dan pakar genetika ini mendeklarasikan dirinya masuk Islam ketika ia mengetahui hakikat empiris ilmiah dan kemukjizatan Al-Quran tentang penyebab penentuan iddah (masa tunggu) perempuan yang dicerai suaminya dengan masa 3 bulan.
Ia menambahkan, pakar Guilhem ini yakin dengan bukti-bukti ilmiah. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuhan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan. Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen. Setelah tiga bulan berlalu, maka sidik itu akan hilang secara keseluruhan. Sehingga perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik laki-laki lainnya.
Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Afrika Muslim di Amerika. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa setiap wanita di sana hanya mengandung dari jejak sidik pasangan mereka saja. Sementara penelitian ilmiah di sebuah perkampungan lain di Amerika membuktikan bahwa wanitanya yang hamil memiliki jejak sidik beberapa laki-laki dua hingga tiga. Artinya, wanita-wanita non Muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahan yang sah.
Yang mengagetkan sang pakar ini adalah ketika dia melakukan penelitian ilmiah terhadap istrinya sendiri. Sebab ia menemukan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya saja berasal dari dirinya. Setelah penelitian-penelitian yang dilakukan ini akhirnya meyakinkan sang pakar Guilhem ini memeluk Islam. Ia meyakini bahwa hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan social. Ia yakin bahwa wanita Muslimah adalah wanita paling bersih di muka bumi ini.
Subhanallah…..Maa kholaqta haadza baathila. Faqinaa ‘adzaban naar….

# Facebook dalam pandangan Islam #

Pada era modern ini, kemajuan teknologi adalah sebuah fenomena alam nyata yang tak terhindarkan dari lini kehidupan umat manusia. Bahkan seakan-akan alat-alat modern tersebut nyaris merasuk ke jantung setiap orang, lintas budaya, suku, bangsa, dan agama.
Di antara alat teknologi modern tersebut adalah internet dengan berbagai variasi program di dalamnya, termasuk di antaranya situs jejaring sosial yang dinamakan “Facebook” yang kini terkenal luas dan diminati banyak orang.
Nah, sebagai seorang muslim yang sejati, hendaknya kita menempatkan alat ini untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan sebagai lahan pahala bagi kita berupa dakwah, silaturrahmi dan sebagainya, bukan malah menjadikannya sebagai alat ghibah (gunjingan), fitnah, provokasi, gosip, nafsu berahi, dan sebagainya. Oleh karena itu, pada edisi kali ini sedikit akan kami sampaikan secara ringkas tentang fiqih penggunaan Facebook dalam syari’at Islam. Semoga bermanfaat.
Definisi Facebook dan Sejarahnya
Facebook adalah sebuah layanan jejaring sosial dan situs web yang diluncurkan pada Februari 2004 yang dioperasikan dan dimiliki oleh Facebook, Inc. Pada Januari 2011, Facebook memiliki lebih dari 600 juta pengguna aktif. Pengguna dapat membuat profil pribadi, menambahkan pengguna lain sebagai teman dan bertukar pesan, termasuk pemberitahuan otomatis ketika mereka memperbarui profilnya. Selain itu, pengguna dapat bergabung dengan grup pengguna yang memiliki tujuan tertentu, diurutkan berdasarkan tempat kerja, sekolah, perguruan tinggi, atau karakteristik lainnya. Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh administrasi universitas di AS dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain. Facebook memungkinkan setiap orang berusia minimal 13 tahun menjadi pengguna terdaftar di situs ini.
Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama teman sekamarnya dan sesama mahasiswa ilmu komputer: Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes. Keanggotaan situs web ini awalnya terbatas untuk mahasiswa Harvard saja, kemudian diperluas ke perguruan lain di Boston, Ivy League, dan Universitas Stanford. Situs ini secara perlahan membuka diri kepada mahasiswa di universitas lain sebelum dibuka untuk siswa sekolah menengah atas, dan akhirnya untuk setiap orang yang berusia minimal 13 tahun.1
Pergerakan dan popularitas Facebook semakin tumbuh dari hari ke hari. Dari berbagai penjuru, warga dunia menggunakan fasilitas ini, termasuk Indonesia. Sehingga menurut statistik, pada 16 Maret 2009 jam 14. 00 WIB, ada 2.235.280 orang yang menyatakan warga Indonesia di Facebook.2
Plus Minus Facebook
Facebook ini ibarat seperti sebuah pisau, bisa mengandung manfaat bila digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat tetapi juga bisa membawa bahaya bila digunakan untuk tindak kejahatan. Demikian halnya dengan Facebook—yang merupakan jejaring sosial—bisa digunakan sebagai wadah silaturrahmi di dunia maya, berdakwah, menimba ilmu, dan sebagainya. Namun, sebaliknya Facebook juga bisa digunakan sebagai ajang maksiat. Berikut ini penjelasannya lebih terperinci:  
1. Manfaat Facebook
Di antara manfaat Facebook adalah sebagai berikut: 
a. Sebagai sarana dakwah
Facebook bisa digunakan sebagai sarana dakwah yang bagus di tengah keringnya ilmu dan informasi tentang Islam  yang benar, sehingga betapa banyak orang mendapatkan hidayah disebabkan membaca artikel di Facebook atau diskusi di Facebook.
b. Wadah silaturrahmi
Facebook bisa digunakan sebagai wadah untuk menyambung silaturrahmi antara sesama teman, orang tua, kerabat, murid, atau guru dan ajang untuk mencari kawan lebih banyak lagi yang itu hukum asalnya adalah boleh-boleh saja.
c. Menyimpan file/tulisan
Tulisan yang disimpan di komputer bukan tidak mungkin akan hilang saat komputer terkena virus. Akan tetapi, jika disimpan di Facebook, maka file tersebut tetap akan selamat selama account masih aktif.
2. Keburukan Facebook
Di antara keburukan Facebook adalah sebagai berikut:
a. Kecanduan
Banyak dari pengguna Facebook merasa asyik berbalas atau chatting, sehingga mereka menjadi lupa pada waktu, tugas kewajibannya, bahkan ada yang sampai dibuat lalai dari aturan agama gara-gara kecanduan Facebook. 
b. Wadah maksiat
Banyak dari para pengguna Facebook tidak mengindahkan aturan agama sehingga menjadikan Facebook sebagai wadah maksiat, berupa ghibah, fitnah, gosip, pacaran, dan sebagainya. 
c. Gambar foto
Di antara wabah Facebook yang sangat perlu diperhatikan adalah budaya menampilkan foto-foto pribadi yang jelas akan dilihat banyak orang, bahkan terkadang yang ditampilkan adalah foto-foto seronok yang mengumbar nafsu. Oleh karenanya, bagi para pengguna Facebook hendaknya mengganti foto-foto tersebut dengan foto-foto lain yang tidak bermasalah seperti pemandangan alam dan sejenisnya.3
Facebook, Halal Atau Haram?
Booming-nya layanan jejaring sosial Facebook menuai kontroversi di kalangan para tokoh agama. Sehingga dahulu pernah diberitakan bahwa pondok pesantren se-Jawa Timur dan Madura yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri mengharamkan pemanfaatan Facebook secara berlebihan seperti mencari jodoh maupun pacaran. Hal ini juga sesuai dengan hasil pembahasan dalam bahtsul masail di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri, Jatim. Namun, fatwa ini akhirnya menuai protes dari para para tokoh moderat, bahkan ada sebagian kalangan yang menilai bahwa fatwa tersebut “kolot” dan “ketinggalan zaman”.
Sebenarnya tidak ada kontradiksi bila kita mau memadukan antara kedua pendapat tersebut. Sebab, kami rasa kita semua sepakat bahwa Facebook hanyalah sekadar sebuah alat saja, bukan haram secara zatnya, namun semua itu tergantung pada penggunaannya. Maka substansi fatwa para tokoh yang melarangnya seharusnya kita ambil faedahnya yaitu agar penggunaan Facebook bukan untuk kemaksiatan melainkan harus diarahkan kepada yang positif.
Syaikh Muhammad asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Pembagian yang benar mengenai sikap dalam menghadapi penemuan modern Barat terbagi menjadi empat macam:
  1. Meninggalkan penemuan modern baik yang bermanfaat maupun berbahaya.
  2. Menerima penemuan modern baik yang bermanfaat maupun berbahaya.
  3. Menerima yang berbahaya dan meninggalkan yang bermanfaat.
  4. Mengambil yang bermanfaat dan meninggalkan yang berbahaya.
Dengan pembagian penemuan modern menjadi empat ini, ternyata kita dapati bahwa pertama, kedua, dan ketiga adalah batil tanpa diragukan lagi, berarti yang benar hanya satu yaitu keempat.”4
Tentu saja, Facebook adalah termasuk masalah kontemporer yang tidak ada dalilnya secara khusus. Namun, bila kita telaah kaidah-kaidah fiqhiyyah yang telah mapan, dapat kita temukan beberapa argumentasi yang menunjukkan hukum asal penggunaan Facebook adalah boleh, setidaknya ada dua kaidah fiqih yang bisa kita terapkan untuknya:
  1. Asal segala urusan dunia hukumnya boleh
Kaidah ini merupakan kaidah yang agung sekali, yaitu bahwa asal semua urusan dunia adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya dan asal semua ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang mensyari’atkannya.
Banyak sekali dalil-dalil al-Qur‘an dan hadits yang menunjukkan kaidah berharga ini, bahkan sebagian ulama menukil ijma’ (kesepakatan) tentang kaidah ini.5 Cukuplah dalil yang sangat jelas tentang masalah ini adalah sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَشَأْنُكُمْ ، وَإِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دِيْنِكُمْ فَإِلَيَّ
“Apabila itu urusan dunia kalian maka itu terserah kalian, dan apabila urusan agama maka kepada saya.”6
Bila ada yang mengatakan, “Bagaimana apabila alat dunia tersebut ditemukan oleh orang nonmuslim?” Jawabnya: Sekalipun begitu, bukankah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu menerima strategi membuat parit sebagaimana usulan Salman al-Farisi ketika Perang Khondaq?! Jadi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima strategi tersebut walaupun asalnya adalah dari orang-orang kafir dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan bahwa strategi ini najis dan kotor karena berasal dari otak orang kafir. Demikian juga tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, beliau meminta bantuan seorang penunjuk jalan yang kafir bernama Abdulloh al-Uraiqith. Semua itu menunjukkan bolehnya mengambil manfaat dari orang-orang kafir dalam masalah dunia dengan tetap mewaspadai virus agama mereka. Dalam kata hikmah Arab dikatakan:
اجْتَنِ الثِّمَارَ وَأَلْقِ الْخَشَبَةَ فِي النَّارِ
Ambillah buahnya dan buanglah kayunya ke api.7
Maka tidak selayaknya seorang hamba menolak nikmat Alloh tanpa alasan syar’i dan tidak halal baginya untuk mengharamkan sesuatu tanpa dalil. 
2. Sarana tergantung kepada tujuannya

Ini juga merupakan kaidah yang sangat penting dan berharga sekali.8 Tidak ragu lagi bahwa dakwah, silaturrahmi, menimba ilmu, dan lainnya merupakan tujuan yang mulia, maka segala sarana yang menuju kepada tujuan tersebut hukumnya seperti tujuannya. Hal ini sama persis dengan hukum menaiki pesawat terbang untuk berangkat haji, menggunakan bom, tank, dan alat-alat canggih modern untuk jihad dan sebagainya; tidak diragukan tentang bolehnya karena alat-alat tersebut merupakan sarana menuju ibadah yang mulia.
Kesimpulannya, bahwa Facebook layaknya alat-alat teknologi lainnya seperti telepon, radio, tipe dan sebagainya, bisa digunakan untuk menimbulkan kerusakan aqidah, pemikiran, akhlak dan sebagainya tetapi ini tidak boleh hukumnya dalam pandangan syari’at. Dan bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Maka seyogianya bagi kaum muslimin untuk memanfaatkan alat ini ini hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi dunia dan akhirat agar dakwah Islam semakin berkembang dan menyebar.Wallohu A’lam.9
Etika Seorang Muslim Ber-Facebook
Facebook adalah jejaring sosial. Itu berarti kita hidup dalam kawasan pertemanan dan pergaulan. Maka etika-etika bergaul harus diperhatikan. Ada beberapa etika yang perlu kami sampaikan kepada para pengguna Facebook sebagai nasihat bagi kita semuanya:
1. Jadikan sebagai ladang pahala
Hendaknya seorang yang masuk pada situs ini meluruskan niatnya terlebih dahulu, dia benar-benar ingin menjadikan Facebook untuk sesuatu yang bermanfaat sebagai ajang silaturrahmi, berdakwah, menimba ilmu, dan sebagainya. 
2. Mengatur waktu
Hendaknya pengguna Facebook memahami akan mahalnya waktu. Janganlah dia terjebak dalam kesia-siaan atau terlena keenakan chatting sehingga lalai dari sholatnya, kewajiban, dan tugasnya di rumah atau tempat kerja. 
3. Waspadailah zina mata dan hati
Dalam Facebook akan di-posting foto-foto pengguna Facebook lainnya yang terkadang mereka adalah foto-foto lawan jenis. Tidak menutup kemungkinan muncul nafsu berahi dengan melihatnya. Maka hendaknya kita takut kepada Alloh dan menyadari bahwa semua itu adalah ujian akan keimanan kita kepada-Nya. 
4. Jagalah kata-kata
Janganlah kita merasa bebas menulis status atau komentar dan kata-kata di Facebook. Pilihlah kata-kata yang baik dan menyenangkan. Jangan menulis kata-kata yang kotor, fitnah, provokasi, gosip, ghibah (gunjingan), dan sebagainya. Seorang muslim harus menjaga anggota tubuhnya dari hal-hal yang dapat menodai keimanannya.
Semoga apa yang kami sampaikan ini membawa manfaat bagi semuanya. Aamiin.

# W A N I T A.... ( RENUNGAN BUAT PARA WANITA) #

WANITA perlu taat kepada suami. Tapi tahukah, bahwa lelaki wajib taat kepada Ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada Bapaknya…

WANITA menerima warisan lebih sedikit dari pada Lelaki-Lelaki, Tapi tahukah bahwa harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada Suaminya, sementara apabila Lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk Isteri dan anak-anaknya.

WANITA perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak. Tapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala umat, malaikat dan seluruh makhluk ALLOH di muka bumi ini, Dan tahukah, jika ia mati karena melahirkan adalah Syahid dan Surga akan menantinya…

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung jawabkan terhadap 4 WANITA, yaitu: 1.Isterinya, 2.Ibunya, 3.Anak Perempuannya dan 4.Saudara Perempuannya.
Artinya: bagi seorang WANITA tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki Yaitu: 1.Suaminya, 2.Ayahnya, 3.Anak Lelakinya dan 4.Saudara Lelakinya.

Seorang WANITA boleh memasuki pintu surga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu : 1.Sholat 5 waktu, 2.Puasa di bulan Ramadhan, 3.Taat kepada Suaminya, dan 4.Menjaga Kehormatannya.

Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi WANITA jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLOH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Semoga Tulisan ini bahan evaluasi diri masing-masing sahabat ku yang tercinta....
Silahkan COPAS atau SHARE jika menurut Sahabat tulisan ini bermanfaat....

Wahai Suami Inilah Hak Istrimu…!!!

Hak Istri Dari Suaminya

Allah Ta’ala berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa`: 19)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menetapkan sanksi atas hak dua orang yang lemah, yaitu hak anak yatim dan hak seorang wanita.” (HR. Ahmad no. 9289, Ibnu Majah no. 3668, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1015)
Yakni: Menetapkan saksi atas siapa saja yang menelantarkan hak kedua orang itu.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَإِذَا شَهِدَ أَمْرًا فَلْيَتَكَلَّمْ بِخَيْرٍ أَوْ لِيَسْكُتْ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, kemudian dia menyaksikan suatu peristiwa, hendaklah dia berbicara dengan baik atau diam. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas. Jika kamu berusaha untuk meluruskannya niscaya akan patah, tapi jika kamu membiarkannya maka dia akan senantiasa bengkok. Karenanya berwasiatlah terhadap wanita dengan kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 5186 dan Muslim no. 1568)
Dari Hakim bin Mu’awiyah Al-Qusyairi dari ayahnya dia berkata: Aku pernah bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah hak isteri salah seorang di antara kami atas dirinya? Beliau menjawab:
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوْ اكْتَسَبْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ
“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Daud no. 2142)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah, jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya.” (HR. At-Tirmizi no. 1162)
Di antara hak istri dari suaminya adalah:
1.    Secara umum memperlakukan istrinya dengan perlakuan yang dia senang jika istrinya memperlakukan dia seperti itu.
2.    Menasehati istrinya dengan kebaikan.
3.    Bersabar dalam menasehatinya dan penuh hikmah di dalamnya. Tidak keseringan dinasehati sehingga membuatnya bosan atau membangkan dan tidak juga terlalu jarang sehingga membuatnya keluar dari akhlak seorang muslimah yang baik.
4.    Memberinya makan dari makanan yang dia makan.
5.    Memberinya pakaian semisal dengan pakaian yang dia gunakan. Kadar minimal wajibnya adalah memberikan kepada istrinya pakaian yang bisa menutupi auratnya.
6.    Tidak boleh memukul wajahnya.
7.    Tidak boleh mencelanya.
8.    Tidak boleh mendoakannya dengan doa yang jelek.
9.    Tidak memboikot dia kecuali di dalam rumah, yakni tidak menyuruhnya keluar dari rumah.
10.    Tidak membencinya dengan kebencian yang sangat, karena tentu masih ada perkara baik dari sisi lain yang dia senangi dari istrinya.

Assalamu^alaikum Sahabat aye,, semoga bermanfaat untuk kite semua.

[Umair bin Wahab Al-Jumahy] Musuh Islam yang Berbalik Membela Islam

penghuni-surga
Usai perang Badar, kaum muslimin menawan sejumlah pasukan musuh. Di antara orang–orang Quraisy yang tertawan adalah Wahab bin Umair bin Wahab Al-Jumahy. Ayahnya, Umair bin Wahab Al-Jumahy, adalah pahlawan Quraisy yang tentu saja sangat memusuhi Islam. Kabar tertawannya Wahab membuat Umair bin Wahab Al-Jumahy sangat sedih. Gerangan apa yang menimpa anaknya di tangan pasukan musuh?

Pikirannya sontak gelisah. Setiap hari, siang dan malam, Umair dilanda risau. Bayangan sang anak selalu menari-nari di pelupuk matanya. Bayangan kematian dan ketidakjelasan hidup anak terkasih karena nyawanya ditawan pasukan Muhammad.

Saat pilunya tetap menyergap, suatu ketika ia bercengkerama dengan karibnya, Shafwan bin Umayah, pemuda dari anak seorang Quraisy. Saat itu, Shafwan juga sedang dalam duka yang mendalam karena ayah kesayangannya mati di perang Badar.
Ia sesumbar dan nekat menemui Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi, tiba-tiba, nyalinya ciut. Lidahnya kelu seraya berikrar masuk Islam saat berhadapan dengan Rasulullah. Allah telah membalikkan hatinya sedemikian cepat.
“Demi Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik sesudah kematian pahlawan-pahlawan Quraisy...” ujar Shafwan.
“Demi Allah, memang begitu! Benarlah kata-katamu itu, hai Shafwan! Demi Allah, jika saja aku tidak punya pinjaman banyak yang hingga kini aku belum dapat melunasinya, dan seumpama aku tidak punya banyak anak yang selalu aku khawatirkan makannya jika aku tinggal mati, niscaya aku datang kepada Muhammad, dan aku bunuh dia. Hatiku amat sakit padanya. Mengapa dia  sampai berani menawan anakku yang kucintai?” timpal Umair membenarkan.
“Hei, kalau betul-betul kau mau membunuh Muhammad, aku sanggup membayar lunas semua pinjamanmu. Adapun anak-anakmu, biar bersama anak-anakku dan orang-orang yang jadi tanggunganku. Akulah yang menanggung makannya selama aku masih hidup,” tukas Shafwan menjamin.
 “Betulkah begitu Shafwan?” Umair terbelalak, setengah tak percaya.
“Mengapa tidak? Aku toh seorang laki-laki? Jangan khawatir!”
 “Kalau memang betul kau sanggup, baiklah, hal ini kita rahasiakan dulu, dan jangan sampai ada seorangpun yang mendengar!”
 “Ya, baiklah! Dan segera kerjakanlah!”
Keduanya kemudian bergegas pulang ke rumah masing-masing. Sesampai di rumah, Umair segera berkemas-kemas dan menyediakan peralatan perang selengkapnya, diantaranya pedang beracun. Dan esoknya, Umair pun berangkat.

Disambut Umar bin Khaththab

Di Madinah, suatu hari, Umar bin Khaththab bersama sekelompok kaum muslimin asyik membincang perang Badar. Mereka bersyukur pertolongan yang Allah turunkan kepada kaum muslimin mampu memberangus laju pasukan musuh. Namun di tengah pembicaraan tersebut, tiba-tiba terdengar suara seseorang datang.
Ketika Umar menoleh, terlihat Umair bin Wahab sedang bergerak menuju ke arah masjid dengan unta yang ditungganginya. “Hei, itu dia si Umar bin Wahab, musuh Allah! Demi Allah, pasti kedatangannya untuk maksud jahat! Dialah yang menghasut orang banyak dan mengarahkan mereka untuk memerangi kita di perang Badar!” ujar Umar berang, membangkitkan semangat kaum muslimin yang ada di sana seraya tak berkedip sekejap pun memandangi Umair.
Sementara Umair terus melaju menuju masjid. Ia lihat kiri-kanan, mencari tahu dimana Muhammad berada. Pedang beracun andalannya dihunuskan. Dia datang dengan mata dan muka merah seolah-olah sedang mabuk, menandakan kemarahan yang menyala. Ia duduk tegak di atas untanya. Kemudian setelah ia sampai di masjid, turunlah ia dan mengikat untanya.
Saat itu, Rasulullah ada di dalam rumah. Dengan cepat Umar berlari menuju ke sana dan masuk ke dalam rumah dan setengah berseru kepada Rasulullah. “Wahai Rasulullah! Itulah seteru Allah, Umair bin Wahab, yang telah datang dengan menyelempangkan pedangnya mencarimu!”
Umar lalu membawa Umair masuk menghadap Nabi. Akan tetapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Bagai harimau yang kehilangan gigi, Umair sama sekali tidak berkutik ketika tali pedang beracunnya dipegang Umar. Ada ketakutan yang tidak bisa disembunyikan ketika Umair berhadapan dengan Umar. Ia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Sesampainya Umar dan Umair di hadapan Nabi, ia pun mengingatkan sikap Umar yang kurang bersahabat. “Lepaskanlah dia, Umar!” Dan Umar pun patuh.
“Selamat pagi untukmu, hai Muhammad!” tegur Umair. Ucapan penghormatan yang lazim dilakukan masyarakat jahiliyah.
“Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan suatu ucapan kehormatan yang lebih baik dari pada ucapanmu itu Umair. Penghormatan itu ialah salam…(Assalamu’ alaikum),” sambut Rasulullah.
“Dan gerangan apa yang membawamu kemari?” imbuh Nabi.
 “Aku datang kemari ini hendak bertemu dengan anakku yang sekarang ada di tanganmu, hai Muhammad.”
“Tidak! Sama sekali bukan itu alasannya. Jujurlah apa yang hendak kau katakan. Jangan berdusta.”
 “Sungguh. Aku hendak bertemu dengan anakku, dan aku ingin meminta kepadamu agar kau berbuat baik kepada anakku.”
“Tapi, apa maksudnya dengan pedang yang kau bawa itu? Kenapa kau meminta anakmu sambil menghunuskan pedang?”
“Pedang ini tidak ada gunanya sedikit pun. Semoga Allah menjelekkan pedang ini.” Umair berkata ragu setengah takut. Ia tak bisa menyembunyikan maksud kedatangannya yang tidak semata-mata ingin membebaskan anaknya tetapi juga untuk membunuh Rasulullah.
“Tidak begitu Umair! Dan apakah kau mau membenarkan ucapanku jika aku mengatakan yang sebenarnya motif di balik kedatanganmu ini?”
“Sungguh Muhammad, aku tidak datang kemari melainkan untuk itu.”
Aroma ketegangan segera dilumerkan Nabi seraya tersenyum melihat tingkah Umair. “Cobalah dengarkan kata-kataku! Beberapa saat yang lalu, kau duduk bersama-sama Shafwan bin Umayyah di Hijr, lalu kau dan Shafwan menyebut-nyebut kaum Quraisy yang tertanam semua jasadnya di sumur Badar. Selanjutnya, kau mengatakan begini dan begitu dan shafwan pun juga berkata begini dan begitu, lantas kau menyahutnya, bukankah begitu?”
Keterangan Nabi sedikitpun tidak berselisih dari apa yang diperbincangkan Umair dan Shafwan.
“Hei, mengapa kau tahu begitu jelas dan rinci? Padahal waktu itu tidak seorangpun yang tahu!”
“Ya tentu saja aku tahu, karena ada yang memberitahukanku. Dan betulkah semua yang aku katakan itu?”
Keheranan yang berubah menjadi kekaguman itu membuat benih kebencian di hati Umair mencair, bahkan sirna. Ia kagum pada pribadi Rasulullah yang hangat dan serba tahu. Maka seketika itu juga ia memutuskan untuk memeluk agama Muhammad.
“Anaa asyhadu annaka Rasulullah, saya menyaksikan bahwa sesungguhnya engkau memang utusan Allah!”
“Sungguh, aku dulu memang mendustakan engkau, Muhammad, dengan segala apa yang telah kau datangkan dari langit dan segala yang diturunkan atasmu. Ihwal yang kau katakan tadi, sungguh ketika aku bercakap-cakap dengan Shafwan, tidak seorangpun yang tahu melainkan aku dan Shafwan. Tapi demi Allah, aku sekarang mengerti dan sangat percaya bahwa segala apa yang datang kepadamu itu tidak lain dari Allah sendiri.”

Membela Agama Allah

Umair pun lantas meminta izin kepada Nabi hendak pulang bersama anaknya yang telah dibebaskan Rasulullah.
“Wahai Rasulullah! Dulu aku seorang pembela bagi pemadam cahaya Allah. Namun kini berbeda. Oleh sebab itu, aku hendak pulang ke Mekkah, Di sana, akan aku sampaikan kepada kawan-kawan Quraisy supaya mereka ikut dan mengakuimu sebagai Rasul-Nya dan memeluk Islam. Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk dari Allah. Namun bila mereka tidak mengikuti, aku akan menyakti mereka sebagaimana aku dulu menyakiti sahabat-sahabatmu.”
Dengan semangat kepahlawanan, Umair berusaha ingin menutupi segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya di masa jahiliyah. Dan atas perubahan itu, Umar bin Khaththab pun berubah menjadi sangat mencintainya. “Demi Allah yang diriku di tangan-Nya! Sesungguhnya aku lebih suka melihat babi daripada Umair sewaktu mula-mula muncul di hadapan kita! Tapi sekarang, aku lebih suka kepadanya daripada sebagian anakku sendiri,” tegas Umar.
Sementara itu, berita keislaman Umair sudah mulai ramai dibicarakan. Setiap rombongan yang datang dari Madinah, tidak ada kata yang terlewat selain membicarakan keputusan Umair memeluk agama Muhammad. Bumi terasa berputar bagi Shafwan

Islamnya Shafwan

Setibanya di Mekkah, Umair segera menyerukan kaum musyrikin Quraisy, terutama kepada Shafwan agar mau masuk Islam. “Shafwan, kau kan seorang ketua (penghulu) kaum Quraisy, tapi mengapa engkau menyembah kepada batu-batu dan berhala itu? Demi Allah, sekarang aku telah menyaksikan bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah dan meyakini pula bahwa sesungguhnya Muhammad itu hamba dan utusan-Nya. Aku mengajakmu wahai kawan, supaya kau segera mengikuti Muhammad!”
Ajakan Umair sama sekali tak digubris. Ia marah luar biasa pada Umair. Ia bahkan bermaksud akan menyerangnya karena merasa dihianati. Tapi, niat itu segera urung melihat Umair masih mengusung pedangnya.
Shafwan segera menghindar dan mengambil sikap berseberangan dengan Umair. Sementara itu, jumlah orang-orang Quraisy yang masuk mengikuti jejak Umair semakin banyak. Mereka dibawa secara rombongan menuju Madinah untuk menghadap Muhammad dan belajar al-Qur’an langsung kepadanya.
Ketika Fathu Mekkah, Umair mencium berita rencana Shafwan berangkat ke Jeddah untuk berlayar ke Yaman. Menurut desas-desus yang beredar, ia akan bunuh diri dengan terjun ke laut karena diburu rasa takut, apalagi pada Muhammad.
Menyadari ini, Umair tidak tinggal diam dan langsung menghadap Rasulullah untuk mengadukan hal ini. “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan itu adalah penghulu kaumnya. Ia hendak pergi melarikan diri dengan terjun ke luar karena takut kepadamu. Aku mohon agar kau beri dia keamanan dan perlindungan. Semoga Allah melimpahkan karunia-Nya kepadamu!”
“Kupastikan dan kujami dia aman!”
Umair segera pergi mengejar Shafwan yang hendak berangkat berlayar. Sambil membawa sorban yang dikenakan Rasulullah ketika memasuki kota Mekkah, Umair pun lalu menunjukkannya kepada sahabat Shofwan sebagai jaminan. Ia mengatakan bahwa Rasulullah bersedia menjamin keamanan dan perlindungan kepadanya. Shafwan setengah tak percaya berita itu. Namun untuk memastikan, Shafwan akhirnya diajak menghadap Rasulullah. Dan sejak itulah Shafwan mengucapkan dua kalimat syahadat mengikuti jejak yang telah ditempuh Umair.
[Disarikan dari 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bustoni, Pustaka Al Kautsar, 2002/Hidayah]


Sumber: http://majalah-hidayah.com/iktibar/kisah-teladan/umair-bin-wahab-al-jumahy--musuh-islam-yang-berbalik-membela-islam.html

Dakwah Rasul Kepada Bangsa Jin


Suatu ketika, Al-Qamah bertanya kepada Ibnu Mas’ud perihal siapa saja yang telah menemani Rasul untuk menemui bangsa jin (baca: untuk berdakwah). Saat itu, Ibnu Mas’ud menjelaskan bahwa suatu malam, para sahabat pernah tidak melihat Rasulullah saw.
Setelah dicari, Rasul tetap tidak kelihatan. Para sahabat pun sangat khawatir. Apalagi, saat itu kaum kafir Quraisy sedang gencar-gencarnya melancarkan tipu muslihat untuk mencelakakan Nabi saw. Mereka mengira, beliau telah diculik kaum kafir Quraisy. Sepanjang malam, para sahabat dilanda kegelisahan dan perasaan yang tidak menentu. Mereka tidak bisa tidur karena menunggu kabar tentang keberadaan Rasulullah.
Nabi berdakwah kepada bangsa jin, mungkinkah? Ya,  dalam berdakwah, Nabi tidak saja didatangi para jin muslim, tapi juga kerapkali mendatangi tempat jin berkumpul.
Menjelang pagi hari, mereka melihat Rasulullah muncul dari arah gua Hira. Melihat kedatangan Rasulullah tersebut, serentak para sahabat sangat lega dan gembira. Mereka kemudian mengabarkan kepada Rasulullah ihwal kegelisahan mereka selama semalam suntuk karena tak melihat beliau.
Mereka pun melontarkan kekhawatiran mereka perihal keselamatan Nabi saw dan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mereka perkirakan bakal menimpa Rasul. Mereka merasa bersyukur, karena Nabi yang mereka cintai ternyata tidak mengalami peristiwa seperti yang mereka khawatirkan.
Rasul dapat memahami kekhawatiran para sahabatnya itu. Beliau pun kemudian menjelaskan tentang apa sebenarnya yang telah terjadi kepada dirinya, “Sesungguhnya para mubaligh dari bangsa jin telah datang menemuiku. Maka, mereka kudatangi dan kemudian aku membacakan ayat-ayat al-Qur’an untuk mereka.”
Untuk meyakinkan para sahabat tentang apa yang beliau katakan, Rasulullah mengajak para sahabat menelusuri jejak beliau. Pada jejak-jejak itu juga terdapat jejak para jin yang berkumpul dan bekas api yang mereka bawa sebagai alat penerangan.
Menurut penafsiran Al-Suhaili sebagaimana dilansir Abu Azka Fathin Mazayasyah dan Ummi Alhan Ramadhan M dalam buku Bercinta Dengan Jin, jin yang masuk Islam lewat bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang diperdengarkan oleh Rasulullah semula berasal dari agama Yahudi, yaitu pengikut Nabi Musa as.
Sementara Ibnu Salam memiliki pandangan yang sama tentang hal itu. Ia menambahkan, peristiwa tersebut berlangsung dalam masa tiga tahun sebelum ia hijrah ke Madinah. Juga sebelum terjadinya peristiwa Isra Mi’raj.
Adapun mengenai jumlah jin yang hadir saat itu, menurut Ibnu Ishak, ada tujuh jin saja. Ibnu Hatim menjelaskan secara lebih spesifik lagi. Menurutnya, dari tujuh jin itu, tiga jin berasal dari Haran dan empat jin dari Nashibin.
Menurut Al-Tsauri, yang diberitakan oleh Ashim dan bersumber dari Zurr bahwa jin yang hadir itu berjumlah sembilan jin. Sedangkan pendapat Al-Tsauri yang diriwayatkan Ikrimah, jumlahnya melonjak secara fantastis, yaitu dua belas ribu jin.
Terlepas mana yang benar dari jumlah-jumlah tersebut; yang jelas, pertemuan Rasulullah saw dengan bangsa jin tiada lain adalah untuk mendakwahkan agama tauhid kepada mereka. Di antara para jin yang pernah ikut mendengarkan dakwah Rasulullah saw tersebut, menurut Ibnu Durair, adalah Syashir, Mashir, Munsyini, Masyie dan Al-Ahqag.
Dalam buku Laskar Api: Buku Paling Pintar tentang Jin karya Ruqayyah Yaqubi disebutkan bahwa ada suatu malam yang disebut dengan istilah lailatul jin (malam jin). Artinya, suatu malam di mana Rasulullah mendatangi para jin untuk berdakwah: mengajarkan agama dan memperdengarkan ayat-ayat al-Qur’an. Istilah ini semakin menegaskan bahwa ada hari-hari tertentu di mana Nabi akan mendatangi bangsa jin untuk berdakwah.
Tempat jin yang didatangi Rasul untuk berdakwah berbeda-beda: kadang gua, kadang pula pohon besar dan sebagainya. Misalnya, seperti disebutkan Mazayasyah dan Ummi Alhan Ramadhan M, bahwa suatu ketika Allah pernah mendatangkan kepada Nabi sekelompok jin untuk belajar agama kepadanya. Konon, sebuah pohon besar kemudian menawarkan dirinya kepada Nabi sebagai tempat berkumpulnya para jin yang hadir tersebut. Para jin itu pun datang dan lalu belajar agama kepada Nabi. Setelah itu, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk menyampaikan apa yang telah dipelajarinya dari Rasul.

Mengajak Sahabat

Dalam dakwahnya kepada bangsa jin, Nabi kerapkali mengajak sahabatnya untuk melihat apa yang dilakukannya tersebut. Menurut Ibnu Mas’ud, suatu malam, Rasulullah saw pernah bersabda kepada para sahabat, “Barangsiapa pada malam ini ingin mengetahui masalah yang berkaitan dengan jin, maka ayo, ikutilah saya.”
            Ternyata, tak ada seorang pun yang berani menyatakan kesediaannya untuk ikut bersamanya. Biasanya, diamnya para sahabat itu bukan karena mereka takut atau tidak mau mengikuti Nabi saw. Akan tetapi, mereka merasa segan kepadanya. Rasa hormat dan sifat ingin memuliakan Nabi saw yang begitu besar menyebabkan mereka tidak banyak bicara di hadapannya.   Pada kesempatan itu, Ibnu Mas’ud memberanikan diri untuk usul kepada Rasulullah. Ia menawarkan diri agar dapat menyertainya. Akhirnya, Rasulullah saw mengajak Ibnu Mas’ud pergi menuju dataran tinggi di kota Mekkah. Setelah sampai, ia membuat garis di tanah dengan menggunakan jari kaki. Ibnu Mas’ud diperintahkan untuk duduk di garis itu. Setelah ia duduk, kemudian Rasulullah saw berjalan menjauh dari tempat Ibnu Mas’ud duduk.
            Dari kejauhan, Ibnu Mas’ud masih dapat melihat Rasulullah dengan jelas. Ia berhenti di suatu tempat dan kemudian membaca ayat-ayat al-Qur’an. Tak lama kemudian, Ibnu Mas’ud melihat banyak orang mengerumuni Rasulullah saw. Ia tak tahu dari mana arah datangnya mereka itu. Tiba-tiba saja mereka muncul dan mengelilingi Rasulullah saw. Bersamaan dengan itu, Ibnu Mas’ud tidak bisa lagi melihat tubuh Rasulullah dan bacaan al-Qur’an beliau sudah tak dapat didengar olehnya.
            Ketika penyampaian ayat-ayat al-Qur’an itu telah selesai dibaca Rasulullah, Ibnu Mas’ud melihat orang-orang itu mulai pergi meninggalkan Rasulullah secara bergerombol. Mereka tampak seperti mega yang berarak-arakan di atas langit. Namun, ada satu kelompok lagi yang masih tetap tinggal bersamanya. Rasulullah terlihat masih menyampaikan dakwah kepada sekelompok jin tersebut sampai fajar tiba.
            Setelah itu, ia menyudahi pertemuan dan kembali mendekat ke arah Ibnu Mas’ud yang masih setia duduk menunggu. Kepada Ibnu Mas’ud, Rasulullah bertanya, “Lihatlah, apakah yang mereka kerjakan?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Ya Rasulullah, begitulah mereka.”
            Mendengar jawaban Ibnu Mas’ud demikian, Rasulullah kemudian mengambil sebatang tulang dan kotoran. Ia memberikannya kepada para jin yang masih menunggu di situ sebagai bekal mereka. Setelah itu, ia bersabda, yang isinya melarang siapa pun beristinja atau bersuci dengan menggunakan tulang dan kotoran.
            Pada masa itu, di negeri gurun pasir, tulang hewan dan kotoran acap kali menjadi kering-kerontang. Orang yang kurang hati-hati, bisa jadi akan mengambil salah satunya sebagai alat untuk beristinja setelah membuang hadats besar atau hadats kecil. Padahal, jika air tidak ditemukan, alat yang dibolehkan untuk beristinja adalah batu.
            Dalam riwayat lainnya dengan sumber yang sama, yaitu dari Ibnu Mas’ud, dikatakan bahwa pada saat itu Ibnu Mas’ud sempat melihat dan mendengar ada jin yang bertanya pada Rasulullah saw, “Siapa yang telah bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah?”
Rasul kemudian menunjuk ke arah sebuah pohon yang tumbuh di dekat situ, seraya balik bertanya, “Apakah jika pohon yang berada di dekat kalian itu mau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah, maka kalian akan ikut beriman?”
Bersamaan dengan itu, Ibnu Mas’ud melihat tiba-tiba saja pohon itu menggerakkan cabang-cabangnya. Kemudian Rasulullah bersabda kepada pohon itu, “Apakah kamu bersaksi bahwa aku Rasulullah?” Pohon itu lalu mengeluarkan suara sebagai jawaban, “Ya. Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah saw.”
            Demikian salah satu model dakwah Nabi kepada bangsa jin. Jadi, kadang Nabi mendatangi para jin tersebut di sebuah tempat tertentu, seperti pohon besar, gua, dan sebagainya; dan kadang pula mereka sendiri yang mendatangi Rasul untuk belajar agama. Dalam dakwahnya itu, Nabi juga kadang mengajak sahabatnya dan kadang pula sendirian. Yang jelas, apa yang dilakukan Rasul benar-benar sebuah perjuangan yang sangat berat. Sebab, ia tidak saja berdakwah kepada manusia, tapi juga kepada bangsa jin. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mendapatkan syafaatnya di akhirat nanti! Amin. [pelbagai sumber]



Sumber: http://majalah-hidayah.com/ilmu/alam-gaib/dakwah-rasul-kepada-bangsa-jin.html

MENGENAL 8 PINTU SURGA

“…Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya sudah terbuka, berkatalah penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini sedang kalian kekal didalamnya’.” (QS. Az-Zumar: 73)
 Bagi orang mukmin yang bertakwa disediakan oleh Allah swt. yang Maha Besar sebuah surga berisi segala bentuk kenikmatan. Surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya masyhur dikenal sebagai sesuatu yang tak pernah dilihat oleh mata, didengar telinga atau terlintas di hati manusia seperti kita. Suatu tempat yang sangat spesial, unik dan otentik, yang merupakan rahasia Allah atas makhluk-Nya yang bertakwa.
Sebagaimana diberitakan al-Qur’an, surga memiliki pintu-pintu. Lewat pintu-pintu itulah orang mukmin dari zaman awal hingga zaman akhir, juga Nabi Muhammad saw. beserta umatnya akan berbondong-bondong masuk. Allah berfirman dalam surat Shad, ayat 49-50, “Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga 'Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.” 

Al-Qur’an menceritakan bahwa pintu-pintu surga akan dibuka bilamana orang-orang mukmin telah sampai di sana. Malaikat-malaikat yang menjaganya akan menyambut mereka seraya menyerukan salam kesejahteraan dan kedamaian bagi orang-orang yang memang berhak atas nikmat surga itu.
“Kesejahteraan dilimpahkan atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini sedang kalian kekal di dalamnya,” ujar para malaikat sebagaimana termaktub dalam ayat ke-73, surat Az-Zumar di atas.

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, kata “pintu-pintu yang terbuka”  memiliki makna bahwa pintu surga adalah pintu yang membuat penghuninya dapat leluasa masuk dengan lancar ke dalamnya. Mereka juga dapat mondar-mandir di dalamnya. Lewat pintu itu pula, malaikat-malaikat bebas mendatangi mereka dengan membawa hadiah dan rezeki dari Allah swt. dan apa saja yang menggembirakan mereka. Surat Ar-Ra’d ayat ke 24 menyebutkan bahwa para malaikat menyabangi penghuni surga lewat pintu-pintu yang terbuka itu seraya menyerukan salam yang sangat indah, “Salamun Alaikum bima shabartum.”
Demikianlah pintu-pintu surga yang terbuka yang melambangkan keridhaan Allah ketika menyambut makhluk-Nya yang ikhlas, yang menghamba pada-Nya sebagaimana janji yang ditetapkan-Nya. Lalu apa sajakah pintu-pintu surga itu?

Delapan Pintu dan Amalan Khusus

Penjelasan terperinci mengenai pintu-pintu surga tertuang dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah melalui periwayatan Imam Bukhari dan Muslim.
Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa membelanjakan sebagian harta kekayaannya di jalan Allah swt., ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga dan surga memiliki delapan buah pintu. Orang yang mengerjakan shalat (secara teratur dan benar) akan dipanggil dari pintu shalat, orang yang sering bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah, orang yang berjihad akan dipanggil dari pintu jihad dan orang yang sering berpuasa secara teratur akan dipanggil dari pintu puasa.”
Abu Bakar lalu bertanya, “Adakah orang yang akan dipanggil dari semua pintu itu, ya Rasulullah?”
Nabi menjawab, “Ada dan kuharap kau salah satu dari mereka.”
Bisa ditarik kesimpulan bahwa di surga ada pintu-pintu khusus yang akan dimasuki orang yang memiliki amal khusus dan menonjol dalam hidupnya. Yang bagus dari segi shalat, meliputi kekhusyuan, kesempurnaan waktu dan rukunnya serta sering melakukan shalat sunnah, maka dia akan memasuki surga lewat pintu shalat. Demikian pula yang ahli sedekah akan masuk lewat pintu sedekah. Seperti juga yang berjihad dan berpuasa. Untuk pintu puasa, Nabi menambahkan keterangan lewat sabdanya:
"Di dalam surga terdapat delapan pintu, salah satunya sebuah pintu yang disebut dengan "ar-Rayyan". Tidak memasuki pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa, dan apabila mereka sudah memasukinya, pintu itu akan dikunci lagi, sehingga tidak ada yang masuk lewatnya." Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari Sahal bin Sa’ad. 

Kesimpulan yang juga tampak jelas dari hadits-hadits shahih ini adalah bilangan pintu surga yang berjumlah delapan. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan ulama salaf. Empat pintu di antaranya telah disebut Nabi saw. Lalu apakah empat pintu yang lain?

Imam Al-Qurthubi dalam Rahasia Kematian Alam Akhirat dan kiamat, mengutip ucapan Qadhi Iyadh yang berujar, “Dalam hadits tadi, yang disebutkan oleh Muslim baru empat pintu saja. Selebihnya adalah pintu taubat, pintu orang-orang yang menahan amarah, pintu orang-orang yang ridha, dan pintu kanan tempat orang yang masuk surga tanpa hisab.”      

Mengenai pintu terakhir yang disebut Qadhi Iyadh, yakni pintu tempat masuk orang yang meraih surga tanpa menjalani hisab terlebih dahulu mendapat konfirmasinya dari hadits shahih Bukhari-Muslim tentang syafaat. Hadits itu dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Hai Muhammad, bawalah masuk orang-orang dari umatmu yang tidak perlu dihisab ke dalam surga melalui pintu dibagian kanan surga, sedangkan yang lain dapat masuk dari pintu-pintu yang lain sebagaimana yang dilakukan oleh para penghuni surga lainnya’.”

Sedang mengenai kepastian pintu-pintu yang lain tak didapat keterangan lugasnya. Namun, para ulama meyakini bahwa amal kebajikan manusialah yang menjadi alasan bagi kekhususan pintu-pintu surga itu. Kebajikan itulah hal utama yang membuat seseorang akan masuk surga lewat satu pintu atau dapat melalui pintu yang manapun yang dia kehendaki karena amal perbuatannya memadai untuk lewat di semua pintu surga yang telah disediakan Allah. Beberapa ulama lain berpendapat bahwa pintu surga sebenarnya berjumlah banyak.

Luas dan Ciri Pintu Surga

Sebuah hadits dari Abu Hurairah memberitakan mengenai luasnya pintu surga. Hadits yang merupakan riwayat dari Bukhari, Ahmad, dan Abu Uwanah itu menceritakan bahwa suatu ketika kepada Nabi dihidangkan semangkuk roti yang dimasak dengan daging. Rasulullah lantas menggigit lengan kambing pada bagian yang paling digemarinya dan berujar, “Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat.” Kata-kata ini diucapkan Nabi sebanyak dua kali yang ternyata dimaksudkan untuk memancing pertanyaan dari para sahabat kenapa hal itu bisa terjadi. Nabi yang mulia itu lalu bercerita bahwa ia datang ke Arsyi, lalu bersujud di hadapan Allah dan Allah menempatkan dirinya pada tempat yang belum pernah ditempati siapa pun sebelumnya dan tak akan ditempati siapa pun sesudahnya.

Kemudian Nabi bertanya mengenai umatnya dan Allah pun berfirman, “Wahai Muhammad masukkan umatmu yang tidak dihisab lewat pintu sebelah kanan. Mereka bebas masuk pintu-pintu lainnya.” Kemudian Nabi pun bersabda, “Demi Muhmmad yang jiwanya ada ditangan-Nya, jarak antara kedua panel daun pintu surga adalah seperti Mekah dan Hajar atau Hajar dan Mekah.”

Hadits ini menjadi pijakan kuat bagi informasi mengenai luas pintu surga yang gaib bagi kita itu. Jarak antara Mekah dan Hajar sendiri diperkirakan berjarak 1160 km. Sedangkan dalam redaksi lain yang juga diyakini keshahihannya, jarak pintu surga adalah seperti Mekah dan Basrah, yakni 1250 km.
Di luar penjelasan ini terdapat beberapa hadits yang dianggap lebih lemah semisal hadits riwayat Ahmad dalam Musnad-nya yang ia dengar dari Al-Jariri yang berkata bahwa Nabi saw bersabda, “Jarak antara dua daun pintu surga adalah empat puluh tahun. Pada suatu hari, ia penuh sesak.” Sementara itu, hadits lain ada yang menyebut luas antara dua daun pintu surga adalah tujuh puluh tahun perjalanan. Waallahu A’lam.

Mengenai ciri-ciri pintu surga didapat penjelasan dari Walid bin Muslim bahwa pintu-pintu surga itu dapat dilihat oleh manusia. Bagian luar pintu-pintu surga itu dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Menurutnya, pintu surga itu dapat berbicara dan orang dapat berbicara dengannya. Pintu-pintu surga juga memahami perkataan seperti, “Bukalah atau tutuplah.”

 Ciri pintu surga yang lain adalah memiliki rantai sebagaimana diberitakan Anas bin Malik. Ia menyebut bahwa Nabi pernah berkata, beliaulah yang pertama kali memegang rantai pintu surga dan itu merupakan kebanggaan tinggi yang tak ada kebanggaan lain melebihi itu. Ibnu Uyainah juga menyebut, sebagaimana diriwayatkan Imam Tirmidzi  bahwa Nabi saw menyebut rantai itu dipegang beliau dan kemudian digerak-gerakkannya. Demikian sebagaimana ditulis Ibnu a-Qayyim Al-Jauziyyah dalam Tamasya ke Surga.
Selanjutnya ciri pintu surga dianggap bersesuaian dengan keadaan surga yang bertingkat-tingkat. Jadi surga yang lebih tinggi memiliki pintu yang lebih luas dibanding tingkatan surga yang lebih rendah. Secara logis juga diyakini, jika luas surga bermacam-macam maka luas pintunya juga bermacam-macam. Waallahu a’lamu bishawab. [ ]
 ( Ilustrasi artikel diambil dari www. Islamic-wallpaper.org) 


Sumber: http://majalah-hidayah.com/ilmu/alam-gaib/mengenal-8-pintu-surga.html

BENARKAH SAYAP MALAIKAT BERTULISKAN SURAT AL-IKHLAS?


Banyak sekali tanda-tanda kebesaran Allah yang ada pada makhluk-Nya, baik pada binatang, tumbuhan, maupun pada manusia. Anda mungkin pernah melihat lafadz Allah pada binatang yang diabadikan dalam sebuah foto, atau kita pernah mendengar sebuah pohon di suatu negara yang membentuk kalimat laa ilaaha illa Allah. Semua ini tidak lain ditujukan kepada kita agar selalu ingat kepada Allah swt.
Salah satu bentuk keagungan Allah juga terlukis pada sayap malaikat. Menurut suatu hadits, pada sayap malaikat terdapat tulisan surat al-Ikhlas. Keterangan ini terdapat dalam riwayat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,
“Ketika melakukan isra’ ke langit, saya telah melihat Arasy di atas 360.000 sendi di mana jarak tempuh antara satu sendi ke sendi lainnya ialah 300.000 tahun perjalanan. Pada tiap-tiap sendi itu terdapat padang sahara sebanyak 12.000 dan luasnya setiap satu padang sahara itu seluas dari timur hingga ke barat. Pada setiap padang sahara itu terdapat 80.000 malaikat di mana semuanya membaca surah al-Ikhlas.” 

Setelah itu Nabi bersabda lagi, “Setelah selesai membaca surat tersebut mereka berkata: Wahai Tuhan kami, sesungguhnya pahala dari bacaan kami ini kami berikan kepada orang yang membaca surat al-Ikhlas, baik ia laki-laki maupun perempuan.”

Ketika para sahabat mendengar keterangan Nabi yang demikian itu, mereka dibuat berdecak kagum. Lalu Nabi bersabda lagi, “Wahai para sahabatku, apakah kamu semua kagum?” Para sahabat menjawab: “Ya, kami sungguh kagum, ya Rasulullah saw.”

Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya Qul Huwallahu Ahad itu tertulis di sayap malaikat Jibril a.s, Allahush Shamad itu tertulis di sayap malaikat Mikail a.s, Lam Yalid Walam Yuulad tertulis pada sayap malaikat Izrail a.s, Walam Yaqullahu Kufuwan Ahad tertulis pada sayap malaikat Israfil a.s. Oleh karena itu, barang siapa dari umatku membaca surat al-Ikhlas maka dia diberi pahala membaca kitab Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an yang agung.”
Setelah Rasulullah saw. berkata demikian, baginda bersabda lagi, “Wahai sahabatku, apakah kamu semua kagum?” Maka para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah saw., kami semua kagum.”
Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh Qul Huwallahu Ahad itu tertulis di dahi Abu Bakar Ash-Shidiq, Allahush Shamad itu tertulis di dahi Umar al-Faaruq, Lam Yalid Walam Yuulad itu tertulis di dahi Utsman Dzun Nuurain dan Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahad itu tertulis di dahi Ali ra. Oleh karena itu, siapa yang membaca surat al-Ikhlas maka ia diberi oleh Allah pahala Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.” (Keterangan ini terdapat dalam kitab Hayatun Quluubi)

Demikian agungnya posisi surat al-Ikhlas di antara surat-surat lainnya, hingga ia sampai terlukis di sayap para malaikat. Bahkan ihwal keagungan dan besarnya manfaat surat ini, Nabi pernah bersabda, “Barangsiapa membaca surat al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, ia akan selamat dari kesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap mereka, melintasi titian siratul mustaqim lalu menuju ke surga.” (Seperti diterangkan dalam kitab Tadzikaratul Qurthuby).

Ada suatu kisah yang menggambarkan keagungan surat al-Ikhlas. Kisah ini terekam dalam hadits. Suatu kali Nabi memberikan sebuah teka-teki kepada para sahabatnya: Siapakah di antara kamu yang dapat mengkhatam Qur'an dalam jangka waktu cepat? Tidak ada seorang sahabat pun yang bisa menjawabnya. Umar lalu berkata bahwa mustahil bisa mengkhatamkan al-Qur'an dalam waktu begitu cepat. Tetapi Ali kemudian mengangkat tangannya. Melihat hal ini, Umar langsung berkata bahwa Ali (yang masih kecil pada waktu itu) tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Lantas Ali membaca surat al-Ikhlas tiga kali. Rasulullah saw. menjawab dengan mengatakan bahwa Ali betul.

Menurut Nabi, membaca surah al-Ikhlas satu kali pahalanya sama dengan membaca 10 juz kitab al-Qur’an. Lalu dengan membaca surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali, maka khatamlah al-Qur’an. Karena hal itu sama dengan membaca 30 juz al-Qur’an.
Ini menunjukkan bahwa surat al-Ikhlas itu memiliki kelebihan dibandingkan surat-surat lainnya. Karena itu, kita sering mengucapkannya pada saat zikir, tahlil, shalat, keadaan takut dan sebagainya. Karena itu pula, Allah mengukirnya pada sayap malaikat.

Kelebihan surat al-Ikhlas juga terlihat dari kisah berikut ini. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa sewaktu ia bersama-sama Rasulullah saw. di Tabuk, pernah suatu ketika cahaya matahari terbit dengan redup, tidak seperti pada hari-hari sebelumnya. Malaikat Jibril lalu datang. Kepada malaikat, Nabi pun menanyakan tentang hal ini. Malaikat menjawab, bahwa matahari tampak redup karena sayap Malaikat terlampau banyak. Para Malaikat sebanyak 70.000 ini diutus Allah karena ada seorang sahabat yang meninggal di Madinah. Sahabat ini banyak membaca surat al-Ikhlas.


Bayangkan, keadaan sahabat itu begitu dihormati di mata malaikat karena seringnya ia membaca surat al-Ikhlas saat hidup. Ini sekali lagi menunjukkan betapa agungnya posisi surat ini dalam kehidupan kita. Semakin sering kita membacanya kian besar pula kita mereguk pahala dari Allah swt..
Hal ini pula yang membuat kenapa surat al-Ikhlas terlukis di sayap malaikat. Kenapa bukan surat yang lain? Toh, sama-sama al-Qur’an.  Ini disebabkan surat al-Ikhlas memiliki kemuliaan yang sangat tinggi dibandingkan surat-surat yang lain.

Abu Sa’id al-Khudry berkata, “Ada seorang sahabat Rasul mendengar tetangganya membaca berulang-ulang ayat Qul Huwallahu Ahad. Kemudian keesokan paginya, Abu Sa’id al-Khudry menyampaikan kepada Rasulullah perihal yang didengarnya semalam, yakni seakan-akan sahabat ini menganggap ringan kedudukan surat ini. Maka Nabi pun bersabda, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya. Sesungguhnya surat al-Ikhlas benar-benar menyamai sepertiga al-Qur’an.” (HR. Bukhari dalam Bab Fadha’il Qur’an No. 5014).

Hadits di atas sekali lagi menunjukkan betapa agungnya posisi surat al-Ikhlas, sehingga harus terlukis di sayap malaikat. Pertanyaannya kemudian adalah kenapa hanya malaikat Jibril, Mikail, Israil dan Izrafil saja yang sayapnya terlukis dengan surat al-Ikhlas?
Inilah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi, bila kita melihat sejarah para malaikat, maka kita tahu bahwa keempat malaikat itu memiliki peran sentral dalam kehidupan makhluk Allah. Malaikat Jibril misalnya, bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw. Ia adalah pemimpin para malaikat. Ia juga menjadi tempat keluh kesah Nabi saat dirinya sedang dalam kebingungan dan sebagainya.
Lalu malaikat Mikail, yang bertugas mengatur cuaca hujan, kemarau, rezeki, dan sebagainya. Sedang malaikat Israil bertugas meniup sangkakala dan malaikat Izrail yang mencabut seluruh makhluk yang bernyawa. Bukan berarti, tugas malaikat-malaikat yang lain tidak terlalu sentral dalam kehidupan manusia. Tetapi, dengan diukirnya surat al-Ikhlas pada keempat malaikat di atas, setidaknya menunjukkan akan peran utama mereka dalam kehidupan makhluk Allah, terutama manusia.

Tentu ini hanya sebatas analisa, sebab persoalan gaib ini hakekatnya hanya Allah yang Maha Tahu. Kita pun tidak penting membanding-bandingkan peran malaikat satu sama lain. Yang penting, tugas kita adalah mempercayai bahwa di sayap-sayap malaikat yang empat itu terlukis surat al-Ikhlas, yang berarti mengindikasikan pentingnya surat ini untuk selalu kita baca setiap saat. Karena itu, perbanyaklah kita membaca al-Qur’an, terutama surat al-Ikhlas. Amien!
 Ilustrasi:ismiummuumarah.blogspot.com


Sumber: http://majalah-hidayah.com/ilmu/alam-gaib/benarkah-sayap-malaikat-bertuliskan-surat-al-ikhlas.html

... Buah Dari Shalat Istikharah ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Imam adz-Dzahabi rohimahulloh menceritakan bahwasanya pernah ada suatu perjalanan yang mengumpulkan empat orang ulama yang sama-sama bernama Muhammad: Muhammad bin Jarir ath-Thobari, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Muhammad bin Nashr al-Marwazi, Muhammad bin Harun ar-Ruyani rahimahumulloh jami’an (masa hidup mereka sekitar tahun 220-300 hijriyah). Bekal perjalana
n mereka sama-sama habis sehingga mereka sama-sama lapar. Lalu mereka berkumpul di dalam satu rumah dan mengundi, barangsiapa yang keluar namanya, maka ia mendapat tugas untuk meminta sedekah kepada orang-orang.

Ternyata undian jatuh kepada Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah. Ia berkata, “Tunggu sejenak, biarkan aku sholat istikhoroh terlebih dahulu.”

Setelah itu ia bertolak menuju ke pintu untuk keluar. Namun tiba-tiba ia melihat beberapa buah lilin ada di depan pintu yang dibawa oleh beberapa tentara utusan. Mereka mengetuk pintu, dan Muhammad bin Ishaq membukakan pintu untuk mereka.

Mereka (para tentara utusan) berkata, “Siapa dari kalian yang bernama Muhammad bin Nashr?.” Lalu mereka mengeluarkan pundi uang sejumlah 50 dinar dan memberikan kepadanya.

Mereka bertanya lagi, “Mana yang namanya Muhammad bin Jarir?” Lalu mereka memberinya 50 dinar. Demikian seterusnya hingga keempat Muhammad mendapatkan 50 dinar.

Kemudian utusan itu menjelaskan bahwa Amir (Pemimpin) mereka telah bermimpi dan melihat keempat Muhammad kelaparan, maka itu ia mengirimkan pundi-pundi uang itu kepada mereka. Dan dia bersumpah, apabila uang-uang tersebut habis, hendaklah mereka mengabarkan kepada Amir tersebut.

(Siyar A’lamun Nubala`, adz-Dzahabi, 14/270 & 508. Dinukil dari kitab Jami’ Mukhtashor al-‘Ulum, Dr. Fakhruddin bin az-Zubair al-Muhsi, hal. 24)

Wallahu’alam bishshawab, ..

~ o ~

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#
--------------- --------------- --------------- ---
.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahum ma wabihamdika AsyaduAllahilah a illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik ....

[Kisah Nyata] Sapi Tua Wanita Miskin di Gaza

Kisah nyata ini terjadi di salah sebuah daerah di Yaman.Kisah penderitaan dan
kepahitan yang dilalui oleh penduduk Gaza tersebar ke seantero dunia. Semua orang marah,
benci, dendam dan sedih. Dimana korban kebanyakan adalah anak-anak kecil tak berdosa
yang menjadi korban muntahan peluru sehingga darah membasah bumi tanpa henti.
Tragedi dahsyat ini juga sampai juga ke telinga seorang perempuan tua yang hidup
miskin di salah sebuah kampung di Yaman. Sama seperti orang lain, dia juga turut sedih dan
pilu sehingga berurai air mata. Lantas suatu hari, dia berusaha sekuat upaya untuk mencoba
membantu sekadar semampunya. Kebetulan , ‘harta’ yang dia punya adalah seekor sapi tua,
terlalu uzur, kurus dan sudah tidak bermaya.

Dengan semangat tinggi dan perasaan simpati amat sangat, dia berniat
menyedekahkan Sapinya itu kepada penduduk Gaza lalu berjalan kaki dari rumah pergi ke
salah sebuah masjid di Yaman sambil memegang sapi tunggal kesayangannya itu.
Kebetulan hari itu Jumaat dan para jemaah sudah mengerumuni pekarangan masjid
untuk melaksanakan ibadat tersebut.

Ketika itu, betapa ramai yang melihat dan memperhatikan perempuan tua nan miskin
dengan sapinya yang berada di sisi luar masjid. Ada yang mengangguk, ada yang
menggeleng kepala. Tak terkecuali ada juga yang tersenyum sinis, tertawa, mengejek melihat
perempuan miskin yang setia berdiri di sisi sapinya.
Masa berlalu, jemaah masjid walaupun khusyuk mendengar khutbah imam namun
sesekali memperhatikan dua mahkhluk tuhan itu. Perempuan dan sapi itu masih di situ yang
tanpa rasa malu atau segan diraut wajahnya.

Setelah imam turun dari mimbar, solat Jumaat kemudian dilakukan, biar dibakar terik
mentari dan peluh menitis dan memercik di muka, perempuan dan sapi tua itu masih saja di
situ.

“Tolonglah.. bawalah sapi ini ke Gaza. Inilah saja yang aku punya. Aku ingin benar
membantu mereka,” ulang perempuan yang tidak dikenali itu. Imam tadi masih
keberatan.Masing-masing jemaah berkata-kata dan berbisik antara satu sama lain. Semua
pandangan tertumpu kepada perempuan dan sapi tuanya itu.

Mata perempuan tua yang miskin itu sudah mulai berkaca dan berair namun tetap
tidak beranjak dan terus merenung ke arah imam tersebut. Sunyi seketika suasana.
Tiba-tiba muncul seorang jemaah lalu bersuara mencetuskan idea: ”Tak mengapalah,
biar aku beli sapi perempuan ini dengan harga 10,000 riyal dan bawa uang itu kemudian
sedekahkanlah kepada penduduk di Gaza.
Imam kemudian nampak setuju. Perempuan miskin tua itu kemudian menyeka air
matanya yang sudah tumpah. Dia membisu namun sepertinya setuju dengan pendapat jemaah
itu.
Tiba-tiba bangkit pula seorang anak muda, memberi pandangan yang jauh lebih hebat
lagi: ”Bagaimana kalau kita rama-ramai membuat tawaran tertinggi sambil bersedekah untuk
membeli sapi ini dan duit nya nanti diserahkan ke Gaza?”

Perempuan itu terkejut, termasuk imam itu juga. Rupa-rupanya cetusan anak muda ini
diterima semua orang. Kemudian dalam beberapa menit para jemaah berebut-rebut
menyedekahkan uang mereka untuk dikumpulkan dengan cara lelang tertinggi.
Segera setelah jemaah selesai solat dan berdoa, tiba-tiba perempuan itu dengan
tergesa-gesa menarik sapi itu membawanya ke depan pintu masjid sambil menanti dengan
penuh sabar tanpa mempedulikan jemaah yang keluar. Ramai juga orang yang tidak beranjak
dan perasaan ingin tahu, apa yang bakal dilakukan oleh perempuan tua itu.

Tatkala imam masjid keluar, perempuan tua itu bingkas berkata :”Wahai imam, aku
telah mendengar kisah sedih penduduk di Gaza. Aku seorang yang miskin tetapi aku
bersimpati dan ingin membantu. Sudilah kau terima satu-satunya sapi yang ku punyai untuk
dibawa ke Gaza, untuk di berikan kepada penduduk di sana.”
Gaduh seketika orang yang berada di masjid itu. Imam kaget dengan permintaan
perempuan itu namun keberatan untuk menerima. Ya, bagaimana membawa sapi tua itu ke
Gaza? Kemudian para jemaah mulai bercakap-cakap. Ada yang mengatakan tindakan itu
tidak munasabah apalagi sapi itu sudah tua dan tiada harga.

Ada yang mulai menawar dari 10,000 ke 30,000 riyal dan berlanjutan untuk seketika.
Suasana pekarangan masjid di Yaman itu menjadi riuh selama proses lelang sapi tersebut.
Akhirnya sapi tua, kurus dan tidak bermaya milik perempuan tua miskin itu dibeli
dengan harga 500,000 riyal, setelah itu uang diserahkan kepada imam masjid, semua sepakat
membuat keputusan itu, kemudian salah seorang jemaah berbicara kepada perempuan tua itu.
“Kami telah melelang sapi kamu dan telah mengumpulkan uang sejumlah 500,000
riyal untuk membeli sapi itu.

“Akan tetapi kami telah sepakat, uang yang terkumpul tadi diserahkan kepada imam
untuk disampaikan kepada penduduk Gaza dan sapi itu kami hadiahkan kembali kepada
kamu,” katanya sambil memperhatikan perempuan tua nan miskin itu yang kembali
meneteskan air mata…gembira.
Tanpa diduga, Allah mentakdirkan segalanya, niat perempuan miskin itu untuk
membantu meringankan beban penderitaan penduduk Palestina akhirnya tercapai dan
dipermudahkan sehingga terkumpul uang yang banyak tanpa kehilangan “harta” satu-satunya
yang ada . Subhanallah.













Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/2271400-kisah-nyata-sapi-tua-wanita/#ixzz2CosIW455

 
Copyright © 2012. ADITYA STATION - All Rights Reserved